13 Cara Mengatur Keuangan bagi First Jobber

cara mengatur keuangan

Memasuki masa first jobber merupakan momen paling menyenangkan bagi anak muda. Selain karena sudah memiliki gaji sendiri, mereka pun bebas menerapkan cara mengatur keuangan tanpa bergantung pada orang tua.

Sayangnya, sebagian first jobber tidak pandai memanajemen finansial. Mereka cenderung suka belanja atau berfoya-foya daripada investasi. Padahal, menurut riset Scwhab Retirement Plan Services, kebiasaan itu bisa membuat first jobber kesulitan di hari tua.

Nah, sebagai solusi, beberapa tips mengatur keuangan berikut ini dapat diterapkan oleh first jobber. Yuk, simak ulasannya.

Cara Mengatur Keuangan bagi First Jobber

1. Menggunakan Cara Mengatur Keuangan Berdasarkan Skala Prioritas

Tips pertama yang harus dilakukan adalah membuat rencana keuangan bulanan. Utamakan dana untuk memenuhi kebutuhan rutin. Semisal, biaya konsumsi, transportasi harian, serta pembayaran tagihan.

Setelah semua skala prioritas dipenuhi, first jobber bisa menggunakan dana untuk keperluan lain, misalnya belanja. Namun, harus ingat—bijaklah saat berbelanja. Pastikan, first jobber membeli barang yang dibutuhkan.

2. Utamakan Membayar Utang

First jobber punya utang pada teman atau rekan kerja? Letakkan pembayaran utang di daftar pertama skala prioritas. Tujuannya untuk mencegah utang menumpuk. Pasalnya, lilitan utang bisa menyulitkan first jobber dalam menyisihkan dana tabungan atau investasi.

Terutama bagi pengguna kartu kredit, bayarlah tagihan tepat waktu. First jobber tentunya tidak ingin dana habis hanya untuk bayar utang, bukan? Pasalnya, jika terus ditunda, angsuran kartu kredit makin banyak plus terkena denda.

3. Sisihkan untuk Investasi

Pernahkah Anda menghitung, berapa banyak first jobber yang mau berinvestasi? Menurut beberapa penelitian, sekitar 4 dari 10 generasi kekinian enggan berinvestasi. Hal ini meresahkan, karena mereka bisa menjadi kalangan prasejahtera di masa depan.

Baca juga:  5 Cara Aneh Tapi Berhasil Bikin Mahasiswa Hemat Uang

Agar dampak buruk tersebut tidak terjadi, first jobber juga perlu menyisihkan minimal 5 persen dana untuk investasi. Lebih bagus lagi jika mengeluarkan 10 persen dari penghasilan. Dengan begitu, first jobber bisa menikmati kebebasan finansial di masa depan.

4. Utang Bank Maksimal 30 Persen dari Gaji

Inflasi terus meningkat sehingga mengakibatkan biaya hidup makin mahal. Dalam kondisi tersebut, first jobber biasanya terdesak untuk berutang. Terutama bagi first jobber yang menikah muda, utang menjadi salah satu cara membeli kebutuhan pokok, semisal rumah.

Jika kondisi mengharuskan berutang, sebaiknya tidak melebihi 30 persen dari gaji bulanan. Sebagai contoh, gaji first jobber Rp3.000.000, berarti angsuran ke bank maksimal Rp900.000 per bulan.

5. Sisihkan 5 Persen dari Penghasilan untuk Dana Kesehatan

First jobber sering kali mengabaikan tawaran asuransi kesehatan karena merasa belum butuh atau merasa dirinya selalu sehat. Padahal, tujuan asuransi tidak hanya itu; first jobber bisa menggunakannya untuk cek medis dan premarital medical check-up.

Jadi, sisihkan minimal 1-5 persen untuk dana kesehatan. Jika bentuknya tabungan, upayakan tidak memakai sedikit pun uang dari anggaran tersebut. Akan lebih baik kalau berupa asuransi. Pasalnya, first jobber bisa memiliki dana kesehatan jangka panjang.

6. Gunakan Smartphone dengan Bijak

Rata-rata first jobber berasal dari generasi milenial yang tumbuh dan berkembang bersama teknologi. Salah satunya teknologi ponsel; mereka pernah menggunakan dari handphone kuno sampai smartphone kekinian.

Ragam aplikasi dan fitur smartphone kerap membuat first jobber tergoda memilikinya. Jika tak bijak menggunakan smartphone, uang bisa ludes untuk berlangganan aplikasi. Sebagai solusi, first jobber mesti mencari gratisan atau memakai layanan prabayar.

Baca juga:  Tabungan Untuk Biaya Pernikahan? Buat Perencanaan Saat Ini Juga!

7. Atur Dana untuk Traveling

Menghemat gaji bulanan bukan berarti menyetop kesenangan secara total. First jobber juga berhak melakukan hobi mereka, seperti traveling ke luar kota. Namun, ada syaratnya—keluarkan dana traveling sesuai bujet.

Semisal, first jobber menetapkan 10 persen dari gaji Rp3.000.000 digunakan untuk traveling. Jika traveling dilakukan tiap bulan, bujet tersebut belum cukup mengantar first jobber ke luar kota.

Tipsnya, kumpulkan dana 10 persen itu di rekening khusus. Lalu, tunggu sampai empat bulan. Uang senilai Rp300.000 dari gaji bulanan pasti bertambah menjadi Rp1.200.000. Mudah, kan?

8. Mencatat Setiap Pengeluaran

Selain first jobber sendiri, siapa lagi yang peduli dengan pengeluaran mereka? Karena itu, penting bagi first jobber untuk mencatat pengeluaran biaya per bulan. Tuliskan di buku khusus—semacam arus kas—agar lebih mudah dalam mengontrol.

Dengan membuat catatan keuangan, first jobber juga bisa mengetahui penggunaan dana tiap bulan. Pun mampu bersikap bijak saat mengeluarkan biaya dan mudah merencanakan finansial di periode selanjutnya.

9. Hindari Kartu Kredit jika Tidak Dibutuhkan

Kebutuhan dan keinginan yang tidak terkendali kerap membuat first jobber kewalahan. Akibatnya, mereka memilih jalan pintas dengan membuat kartu kredit. Padahal, kartu kredit merupakan gerbang awal menuju utang.

Jadi, apa pun yang terjadi, upayakan membayar dengan uang tunai. Tujuannya, supaya first jobber bisa mengontrol belanja barang.

10. Hemat Pengeluaran dengan Membawa Bekal Makanan

Bagi first jobber yang hidup di luar tempat tinggalnya, biaya konsumsi cenderung paling tinggi. Untuk mengatasi masalah tersebut, cobalah membawa bekal makanan ke kantor. Minimal, bekal tersebut bisa dikonsumsi ketika makan siang.

Baca juga:  Cara Mengelola Gaji Bulanan Agar Kebutuhan Terpenuhi

11. Membuat Dua Rekening—untuk Transaksi dan Tabungan

First jobber lebih suka menabung daripada investasi berjangka? Jika hanya menggunakan satu rekening, niat untuk menabung biasanya sulit diwujudkan. Itu sebabnya, first jobber perlu memiliki dua rekening.

Satu rekening untuk dana kebutuhan sehari-hari, satu lagi sebagai rekening tabungan. Khusus rekening tabungan, sebaiknya tanpa ATM. Tujuannya supaya first jobber tidak menggunakannya untuk belanja atau transaksi lain.

12. Hemat Biaya Transportasi dengan Tinggal di Dekat Kantor

Lokasi kantor yang berjauhan dari rumah tinggal membutuhkan biaya transportasi cukup tinggi. Mumpung masih first jobber, cobalah mencari indekos di sekitar kantor. Dengan begitu, first jobber bisa berjalan kaki ke tempat kerja untuk menghemat biaya.

13. Kalau Anda PNS, Abaikan Gaji ke-13

Salah satu keberuntungan first jobber yang menjadi PNS adalah mendapatkan gaji ke-13. Jumlah gaji ke-13 tersebut bisa mencapai 2-3 kali lipat penghasilan bulanan. Jika tak pandai mengelola, pasti lenyap dalam sekejap.

Karena itu, biarkan gaji ke-13 mengendap di rekening tabungan. Untuk kebutuhan sehari-hari, cukup gunakan penghasilan bulanan. Sementara gaji ke-13, bisa disimpan sebagai modal membangun bisnis atau rumah di masa depan.

Bagaimana? First jobber sudah siap menerapkan cara mengatur keuangan tersebut? Jangan tunda sampai esok; sebab apa yang dilakukan first jobber hari ini menentukan kemampuan finansial di masa depan.